BATIK (ART TRADITIONAL)
BATIK . The name of an art form of carving that depicted or described in a pattern to form a picture made on a piece of cloth , to be made distinctive clothing that has taste and high culture art in some conditions of batik can be differentiated by their respective areas due to patterns in each region was not the same , because it has a wide diversity of different colors and patterns batik believed to have existed since the time of Majapahit , and became very popular late eighteenth century or early nineteenth century .
Produced batik batik is all until the early twentieth century and the new batik known after World War I or around the 1920's batik is usually used for formal occasions such as celebrations, and birthday batik itself. in batik making was there that use modern ways and means of making traditional in every
Detail clothing featuring vines pattern and intricate flowers that are similar to traditional Javanese batik patterns that can be found today . It is pointed out that making intricate batik patterns that can only be made with a canting has been known in Java since the 13th century or even earlier . craft that has high artistic value and has become part of the culture of Indonesia ( especially Java ) since long . Javanese women in the past made their skills in batik for a living , so in the past, batik work is exclusively women's work until the invention of " Batik Cap " which allows the entry of men into the field . There are some exceptions to this phenomenon , namely the coastal batik masculine lines as can be seen in shades of " Mega Clouds", which in some coastal areas batik work is common for men .
REOG PONOROGO ( BUADAYA DAN SENI ASLI PONOROGO)
Reog merupakan kesenian dari daerah Jawa Timur, tepatnya di daerah ponorogo sebelah barat laut dan ponorogo adalah kota asal Reog sebenarnya.
Reog adalah salah satu budaya kesenian indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang cukup kuat
Dalam pertunjukan Reog di tampilkan topeng yang berbentuk menyerupai singa (leon) yang juga di kenal masyakarakat dengan ''Singa Barong'' raja hutan,di atasnya juga di hiasi dengan tancapan bulu-bulu merak sehingga terlihat seperti kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh yang kuat akan energi yang di miliki untuk mengatur segala gerak-gerik yang ada di sekitar
yang menjadikan seni Reog ini menakjubkan adalah berat topeng Singa Barong ini bisa mencapai 50-60kg,yang penampilanya di bawa oleh penarinya dengan giginya. kemampuan ini tidak hanya di peroleh dengan latihan yang berat juga di percaya dengan latihan spiritual dengan bertapa dan puasa.
Adegan dalam seni Reog tersebut tidak mengikuti sekenario yang tersusun rapi juga ada interaksi antara pemain dan dalang atau ketua dari rombongan Reog,juga terkadang dengan penontonya. pemain Reog tersebut juga kadang di gatikan dengan pemain yang yang lainya bila sudah terlihat kelelahan,karena yang lebih di kepentingkan dalam reog adalah memberi kepuasan terhadap semua penonton yang hadir dalam acara yang berlangsung.
Tarian pebuka lainya pun juga ada untuk penambahan atau pengiring Reog. dalam penampilan Reog pun bisa mengikuti kondisi dalam acara tersebut, jika dalam acara pernikahan bercerita tentang percitaan dan bila acara khinatan biasanya biasanya bercerita tentang cerita pendekar tergantung kondisi dan keadaan.
Reog adalah salah satu budaya kesenian indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang cukup kuat
Dalam pertunjukan Reog di tampilkan topeng yang berbentuk menyerupai singa (leon) yang juga di kenal masyakarakat dengan ''Singa Barong'' raja hutan,di atasnya juga di hiasi dengan tancapan bulu-bulu merak sehingga terlihat seperti kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh yang kuat akan energi yang di miliki untuk mengatur segala gerak-gerik yang ada di sekitar
yang menjadikan seni Reog ini menakjubkan adalah berat topeng Singa Barong ini bisa mencapai 50-60kg,yang penampilanya di bawa oleh penarinya dengan giginya. kemampuan ini tidak hanya di peroleh dengan latihan yang berat juga di percaya dengan latihan spiritual dengan bertapa dan puasa.
Adegan dalam seni Reog tersebut tidak mengikuti sekenario yang tersusun rapi juga ada interaksi antara pemain dan dalang atau ketua dari rombongan Reog,juga terkadang dengan penontonya. pemain Reog tersebut juga kadang di gatikan dengan pemain yang yang lainya bila sudah terlihat kelelahan,karena yang lebih di kepentingkan dalam reog adalah memberi kepuasan terhadap semua penonton yang hadir dalam acara yang berlangsung.
Tarian pebuka lainya pun juga ada untuk penambahan atau pengiring Reog. dalam penampilan Reog pun bisa mengikuti kondisi dalam acara tersebut, jika dalam acara pernikahan bercerita tentang percitaan dan bila acara khinatan biasanya biasanya bercerita tentang cerita pendekar tergantung kondisi dan keadaan.
TARIAN TAYUBAN (TAYUBANS DANCE )
Tarian Tayuban merupakan tarian khas jawa tengah yang sudah ada mungkin dari jaman kerajaan terdahulu. tarian ini mempunyai unsur keserasian tarian dan keindahan tarian tersebut karena menggunakan gaya yang mungin hampir sama dengan tarian-tarian yang ada di Indonesia. dengan melihat tarian ini kita dapat menyimpulkan bahwa tarian ini juga seperti tarian jaipong dari jawa Barat .dari unsur keindahan yang tampak mungkin terlihat dari kemampuan penari melakonkan tari yang di bawakannya
Tarian ini biasanya di selenggarakan pada acara pernikahan,kithanan,serta acara kebesaran misalnya hari kemerdekaan Republik Indonesia. Perayaan kemenangan dalam pemilihan kepala desa dan acara bersih desa.
Anggota yang ikut dalam acara kesenian ini terdiri dari Shinden,penata gamelan dan penari khususnya wanita-wanita yag cantik yang di rias dengan kostum kebaya jawa .
Penari tari Tayub bisa di lakukan bersamaan maupun di lakukan sendiri tergantung keadaan dan posisisi musik. biasanya penyelenggaraan acara (pria) khusunya di mulai dari pukul 09 :00 malam sampai pukul 03 ;00 pagi tergantung yang menyelenggarakan acara tersebut.Penari tarian tayub juga di kenal dengan inisiasi ledhek.
Tari tayub merupakan tarian pergaulan yang di sajikan untuk menjalin hubungan sosial masyarakat. mungkin kebudayaan ini sudah sedikit kita lihat penampilannya karena terkikis oleh dunia modern yang menggunakan tarian dancer yang lebih di sukai oleh kaula muda saat ini.
KUDA LUMPING (ART OF HORSE LUMPING )
Lumping horse dance that is played with a horse property imitation , made from woven bamboo or braid . Nothing in the historical record to explain the origin of this dance , only verbal history passed down from one generation to the next .
In performances , dance horse lumping using glass , porcelain , stone , and amulets . The dancers horse lumping very crazy
In addition to containing elements of entertainment and religion , traditional art lumping horse is often also contains elements of ritual . Because before the show begins , usually a handler will perform a ritual rain , to maintain considering the sunny weather to keep the show is usually done in the open field .
This dance is very give a good impression to the surrounding community .
In addition provide enough entertainment adrenaline accelerate this dance also contains a secret story elements and strong culture of Javanese culture will be existing from the days of our ancestors from somewhere where that dance is still in the title in each event and the traditional Javanese culture . lumping horse dance reflects the spirit of heroism and military aspects of a cavalry or cavalry . It is seen from rhythmic movements , dynamic , and aggressive , flick through the woven bamboo , mimicking the movement like a horse in the midst of war .
In addition provide enough entertainment adrenaline accelerate this dance also contains a secret story elements and strong culture of Javanese culture will be existing from the days of our ancestors from somewhere where that dance is still in the title in each event and the traditional Javanese culture . lumping horse dance reflects the spirit of heroism and military aspects of a cavalry or cavalry . It is seen from rhythmic movements , dynamic , and aggressive , flick through the woven bamboo , mimicking the movement like a horse in the midst of war .
SENI TARI (ARTS OF DANCE)
The art of dance is a rhythmic movement of the body is done in a certain time and place for the purposes of the association , expressing feelings , intentions, and thoughts . Sounds called musical dance movements set dancers and reinforce the intention to be conveyed . Different dance movements from everyday movements such as running , walking , or physical exercises . Motion in the dance is not a realistic motion , but the motion duly expressive and aesthetic form . A dance is actually a blend of several fruit elements , namely wiraga ( raga ) , Wirama ( rhythm ) , and Wirasa ( flavor ) . These three elements fuse into a harmonious dance form . The main elements of the dance is the movement . Dance movement always involves an element of human limbs . The elements of the limbs in the form of dance movement can stand alone , or continuous joining . Her conclusion dance also includes types of mild exercise similar to yoga yes , the art is interesting to broaden the horizon and as an icon in a performance of the national culture .
GONG IS TRADITIONAL JAVA MUSIC
Gong has an important role in Javanese Gamelan set of tools , Gong is said that mimicked the sound , here in particular gong gong show at Nth vertical hanging , large or medium, at o'clock in the middle of her circle of ( pencu ) with upholstered round shape . Gong works mark the beginning and the end gendhing voice (voice ) and give a sense of balance after passing sentence gendhing song ( votes ) long . Gong is very important to mark the end of the song the basis of per-unit cluster , so cluster itself. Gong always in use second event began as wayang kulit , movies wong etc. . and follow the storyline and the current state penampilanya gong instrument is well enough to be affected so natural Javanese art that inspires the listener itself, not many people that this music should be proficient expertise and effort to learn this instrument . There are two general kinds of gong in the know , namely: - Gong Agung ( large ) and - Gong gong spells or a medium-sized siyem .
GATOT KOCO (ARTS)
Gatot koco is a puppet version of Java that may also recognize as a hero in every story movies that have great influence . in Javanese society he is the most powerful figure with amazing energy , he added that such a large body berpostur monster but not a monster. Most popular stories may be among the Java community that influence the way movie stories , Javanese people always remember the words words which may be very close to the Gatot koco tenanga yes that is has meaning "the muscle wire iron bones that make Gatot koco is similar to the figures host of others . with natural strength and energy . One of the advantages is that although he became stocky body and large but not as gigantic monsters in movie story he has the ability to fly like an eagle winged celestial dragon the story of a movie. he is the son of one of the most in familiar role ie devil , one of the Pandava brothers with similar posture and strength. Gatot koco is king Dadi pringgodani government in the movie story is pretty Insolvency title might know the movie story in Java Gatot name koco consecutive up with always remembered the days of old till now
Arjuno Satrio Pinengah (Arjuna)
Arjuna yes it is, also figures names in Javanese wayang called with Arjuno . the puppet he always be a hero in the story mastermind on the run swerved into every woman's dream in the story that have the face of a handsome , clever , smart, gentle , compassionate , etc. .
From 4 to his brother he most certainly has the authority and leader characterictics owned , in the puppet Arjuno ( Arjuna ) always associate with Shinto ( Shinta ) because they like the two are a match , yes because Arjuno ( Arjuna ) handsome and Shinto ( Shinta ) is very beautiful.
Arjuno
posture ( Arjuna ) is a small sleek and minimalist so that the
mastermind was very good at processing and rerun the puppet with expert
move . Arjuno
( Arjuna ) always get a great body posture enemies like giant ( Butho )
because she likes to wander and meditate , so that in every way he's
always been obstructed his enemies like giant etc . It
was a bit of Arjuno ( Arjuna ) in wayang story on the island of Java
which has been attached to the folklore that role Arjuno ( Arjuna ) is
very popular in puppetry .
Wayang Wong (Puppet People and Art)
Puppet people in Indonesia have a very strong local arts community in the life of Central Java ( Indonesia) . within different segments of middle and upper middle . not uncommon everyone will know and understand the content and the story in it .
This art also has the attraction that can make people fall asleep can be a story in the show , the one per title . within each appearance can achieve a time determined by the person who made the event . The story in this art usually take from the history of the towns around . There are many titles that might never realize but the lift in here , so sometimes new audience will not understand the story but could possibly enjoy it . This art requires a lot of personnel and support as a member , included a chairman and subordinates .
each serving is usually at the start of the morning until the afternoon and evening until morning depending on the contents of each story aired . stage used large enough so that the audience easily seen in the distance . in this art also uses traditional musical instruments typical of Central Java ( Indonesia) .
Wayang Golek ( ARTS )
Yang dimaksud dengan wayang golek purwa dalam tulisan ini adalah pertunjukan boneka (golek) wayang yang cerita pokoknya bersumber pada cerita Mahabharata dan Ramayana. Istilah purwa mengacu pada pakem pedalangan gaya Jawa Barat dan juga Surakarta yang bersumber pada Serat Pustaka Raja Purwa karya R Ng. Ranggowarsito. Beliau berhasil mengolah cerita-cerita yang bersumber dari kebudayaan India yang dialkulturasikan dengan kebudayaan asli Indonesia. Golek Sunda adalah seni pertunjukan tradisi yang berkembang di tanah Sunda, Jawa Barat. Berbeda dengan wayang kulit yang dua dimensi, boneka wayang golek adalah salah satu jenis wayang trimatra atau tiga dimensi.
Menurut C.M Pleyte, bahwa masyarakat di Jawa Barat mulai mengenal wayang pada tahun 1455 Saka atau 1533 Masehi dalam Prasasti Batutulis. Pada abad 16 dalam naskah Ceritera Parahyangan juga disebutkan berulang-ulang kata-kata Sang Pandawa Ring / Kuningan.
Pendapat lain yang berkenaan dengan penyebaran wayang di Jawa Barat adalah pada masa pemerintahan Raden Patah dari Kerajaan Demak, kemudian disebarluaskan para Wali Sanga. Termasuk Sunan Gunung Jati yang pada tahun 1568 memegang kendali pemerintahan di Kasultanan Cirebon. Beliau memanfaatkan pergelaran wayang kulit sebagai media dakwah untuk penyebaran agama Islam. Baru sekitar tahun 1584 Masehi salah satu Sunan dari Dewan Wali Sanga yang menciptakan Wayang Golek, tidak lain adalah Sunan Kudus yang menciptakan Wayang Golek Pertama.
Pada waktu kabupaten-kabupaten di Jawa Barat ada di bawah pemerintahan Mataram, ketika jaman pemerintahan Sultan Agung (1601-1635), mereka yang menggemari seni pewayangan lebih meningkat lagi dalam penyebarannya, ditambah lagi banyaknya kaum bangsawan Sunda yang datang ke Mataram untuk mempelajari bahasa Jawa dalam konteks kepentingan pemerintahan, dalam penyebarannya wayang golek dengan adanya kebebasan pemakaian bahasa masing-masing, seni pewayangan lebih berkembang, dan menjangkau hampir seluruh Jawa Barat.
Menurut penjelasan Dr.Th. Pigeaud, bahwa salah seorang bupati Sumedang mendapat gagasan untuk membuat wayang golek yang bentuknya meniru wayang kulit seperti dalam cerita Ramayana dan Mahabharata. Perubahan bentuk wayang kulit menjadi golek secara berangsur-angsur, hal itu terjadi pada sekitar abad ke 18-19. Penemuan ini diperkuat dengan adanya berita, bahwa pada abad ke-18 tahun 1794-1829 Dalem Bupati Bandung (Karanganyar), menugaskan Ki Darman, seorang juru wayang kulit asal Tegal Jawa Tengah, yang bertempat tinggal di Cibiru, Jawa Barat, untuk membuat bentuk golek purwa. Pada abad ke-20 mengalami perubahan-perubahan bentuk wayang golek, semakin menjadi baik dan sempurna, seperti wayang golek yang kita ketemukan sekarang ini. Wayang golek yang seperti ini kita sebut Wayang Golek Purwa Sunda..
Dalam perjalanan sejarahnya, pergelaran wayang golek mula-mula dilaksanakan oleh kaum bangsawan. Terutama peran penguasa terutama para bupati di Jawa Barat, mempunyai pengaruh besar terhadap berkembangnya wayang golek tersebut. Pada awalnya pertunjukan wayang golek diselenggarakan oleh para priyayi (kaum bangsawan Sunda) dilingkungan Istana atau Kabupaten untuk kepentingan pribadi maupun untuk keperluan umum.
Fungsi pertunjukan wayang tersebut bergantung pada permintaan, terutama para bangsawan pada waktu itu. Pergelaran tersebut untuk keperluan ritual khusus atau dalam rangka tontonan/hiburan. Pertunjukan wayang golek yang sifatnya ritual, walupun ada tetapi sudah jarang sekali di pentaskan. Misalnya upacara sedekah laut dan sedekah bumi, setiap tahun sekali. Pementasan yang masih semarak adalah pertunjukan wayang golek untuk keperluan tontonan. Biasanya diselenggerakan untuk keperluan memperingati hari jadi kabupaten, HUT Kemerdekaan RI, Syukuran dan lain sebagainya. Walaupun demikian, bukan berarti esensi yang mengandung nilai tuntunan dalam pertunjukan wayang golek sudah hilang, tidak demikian halnya.
Hasil wawancara dari beberapa tokoh wayang, misalnya Bp.Barnas Sumantri (Jakarta), Tjetjep Supriyadi (Karawang), Endin Somawijaya (Sukabumi), Dede Amung (Bandung), memberitakan bahwa sejak tahun 60-an sampai tahun 70-an, fungsi nilai tuntunan masih bisa diterima khalayak penonton. Awal tahun 70-an mulai ada pertunjukan dengan menghadirkan bintang pesinden/juru kawih yang terkenal, bahkan ketenarannya melebihi dalangnya. Akhirnya pergelaran itu bisa diterima masyarakat, dan banyak seniman lain yang menirunya, meskipun sebagian dari mereka belum bisa menerima pembaharuan tersebut. Dari masyarakat, khususnya para seniman wayang (dalang, niyaga, pesinden), sejak itu mereka mulai mengadakan eksplorasi pertunjukan yang mengedepankan visualisasi tontonan dan hiburan. Maka tidak mengherankan bila pada waktu itu, sudah ada pertunjukan wayang golek yang mendatangkan tari Jaipong yang menari di atas panggung. Itulah barangkali yang membuat esensi dari wayang tersebut kurang begitu seimbang antara konsep wadah dan isi.
Bagi seniman wayang yang masih tetap mempertahankan nilai tuntunan, mereka tetap ingin berupaya mengembangkan daya kreatifitasnya melalui keseimbangan antara garap tuntunan dan tontonan. Wadah, perangkat kasar, meliputi penggarapan unsur-unsur pedalangan (penggarapan tokoh, lakon, alur, sastera pedalangan, sabet, iringan dll). Isi adalah penggarapan esensi atau rohani serta pesan moral yang akan disampaikan.
Kesimpulannya, keberadaan wayang golek dari dulu hingga sekarang memang mengalami perubahan serta pengembangan ke arah modernisasi tanpa mengurangi nilai tradisional, dan esensinya selalu relevan dengan situasi zaman.(Sumanto, Makalah, Konsep wadah dan isi)
Fungsi Wayang Golek di tengah-tengah masyarakat mempunyai kedudukan yang sangat terhormat. Di samping sebagai sarana hiburan yang sehat, ia juga berfungsi sebagai media penerangan dan pendidikan. Baiak itu tentang moralitas, etika, adapt istiadat atau religi. Yang tak kalah pentingnya Wayang Golek itu pun berfungsi sebagai upacara ritual penolak bala, upacara tersebut Ngaruat.
Sampai saat ini Wayang Golek masih tetap digemari oleh masyarakat Jawa Barat, baik tua atau pun muda. Ia masih sering dipergelarkan pada berbagai pesta keramaian seperti khitanan, perkawinan, perayaan hari-hari besar, malam penggalangan dana, sebagai kaul/nazar, atau ngaruat untuk memohon berkah dan keselamatan.
Pada masyarakat pedesaan, Wayang Golek dapat dijadikan alat untuk mengukur status social seseorang. Artinya apabila di kampong mereka ada orang yang menanggap Wayang Golek, apalagi dalangnya ternama, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut dapat dikatagorikan sebagai orang berada.
Sebagai teater, Wayang Golek merupakan seni pertunjukan yang amat komplek sebab di dalamnya terdapat berbagai cabang seni seperti seni rupa, seni sastra, suara, musik dan seni tari. Demikian juga dengan cara penyajiannya, ia tidak cukup hanya dimainkan oleh seorang Dalang tetapi membutuhkan persoalan pendukung yang kadang-kadang melebihi 20 orang.
Persoalan pendukung itu memang mempunyai tugas dan fungsi masing-masing, namun semuanya tetap harus mendukung Dalang sebagai pusat pertunjukan. Karena itu, dalam pergelaran Wayang Golek semua personal harus menjadi suatu kesatuan yang utuh dan padu agar semua dapat berjalan dengan sempurna.
2. Bentuk Wayang Golek
Media utama pergelaran Wayang Golek adalah boneka yang terbuat dari kayu (umumnya jenis kayu yang ringan), ditatah/doukir, dicat, diberi busana dan karakter sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan. Boneka kayu yang menyerupai manusia dengan stilasi disana-sini itu disebut juga Wayang Golek, dengan demikian nama benda peraga dan nama jenis pertunjukannya itu sendiri sama yakni Wayang Golek.
Bentuk/badan wadag Wayang Golek sebenarnya dapat dipisah-pisah menjadi 3 (tiga) bagian yaitu bagian kepala beserta leher, tangan, dan badan. Ketiga bagian tersebut dibuat secara terpisah untuk kemudian disambungkan sehingga bentuknya tampak utuh seperti “manusia”.
Bagian leher dan kepala disambungkan oleh bamboo yang telah diraut kurang lebih sebesar jari kelingking sehingga wayang tersebut dapat menengok ke kiri dank e kanan seperti manusia. Bagian bawah dari bamboo itu diruncingkan, menembus badan wayang sampai ke bawah dan akhirnya berfungsi sebagai kaki yang akan ditancapkan pada batang pisang sehingga dapat berdiri kokoh. Dari bagian pinggang ke bawah dipasang kain yang berbentuk sarung sehingga tangan Dalang yang memegang bambu tadi tidak tampak dari luar.
Bagian tangan dibuat terpisah terutama pada sendi bahu dan sedi siku. Sendi-sendi itu dihubungkan dengan benang/tali sehingga wayang tersebut dapat bergerak menyerupai manusia. Bagian tangan tokoh-tokoh wayang tertentu diberi kelat bahu (hiasan pangkal lengan) atau gelang. Demikian juga pada bagian-bagian tubuh wayang yang penuh dengan manik-manik, anting telinga, badong (hiasan punggung), keris dan sebagainya. Adapun bentuk badan raut wajah, pakaian, hiasan, disesuaikan dengan karakter dan kedudukan tokoh wayang yang bersngkutan.
3. Sumber Cerita
Cerita pada pertunjukan Wayang Golek Sunda umumnya bersumber kepada kitab Arjuna Sasrabahu, Ramayana, dan Mahabarata, yaitu kitab-kitab yang berasal dari kebudayaan Hindu di India. Namun cerita yang paling banyak digemari masyarakat adalah Mahabarata, bahkan dari lakon induk ini telah lahir berpuluh-puluh cerita sempalan/carangan yang merupakan hasil kreatifitas para dalang.
4. Musik
Musik yang dipergunakan untuk mengiringi pergelaran Wayang Golek adalah karawitan Sunda yang berlaraskan Pelog/Salendro. Instrumen musik tersebut ditabuh oleh beberapa orang Nayaga atau Juru Gending, adapun alat musik tersebut lengkap adalah sebagai berikut :
Saron 1 Saron 2 - Peking - Demung - Selentem
Bonang - Rincik - Kenong - Gambang
Rebab - Kecrek - Kendang - Bedug
Gong
Kedudukan musik dalam pergelaran Wayang Golek demikian pentingnya, ia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pertunjukan itu sendiri. Mulai dari tatalu (overture) kawin/lagu, tari dan perang wayang, dialog, pembangunan suasana, pengisi celah antar adegan, semuanya diiringi dengan musik. Di samping itu, musik itu pun harus disesuaikan dengan karakter-karakter wayang yang diiringinya
Misalnya :
Satria Ladak, seperti Narayana, Karna, Salya, Somantri, harus diiringi dengan gending gawil
Satria Lungguh, seperti Arjuna, Abimanyu, Pandu, Semiaji, diiringi dengan gending banjar Sinom atau Udan Mas
Ponggawa, seperti Gatotkaca, Indrajit, Baladewa, biasa diiringi dengan gending bendrong, Waled, dan Macan Ucul.
Raja-raja, seperti Kresna diiringi dengan gending Kastawa, Rahwana dengan gending Gonjing atau genggong
5. Sinden/Juru Kawih
Sinden atau Pasinden, dalam pergelaran Wayang Golek sering pula disebut Juru Kawin, Juru Sekar, atau Suarawati. Tugasnya adalah melantunkan lagu/kawin untuk mendukung sajian Dalang. Sebagai pendukung, tentu saja Pasinden ini tidak dibenarkan melantunkan lagu semena-mena, ia harus mampu mendukung apa yang sedang dan akan dibawakan oleh Dalang. Misalnya saat Dalang membawakan adegan sedih maka syair (rumpaka) lagunya pun harus bermakna sedih, saat Dalang membawakan adegan romantis maka syairnya pun harus romantis. Demikian juga saat Dalang akan menceritakan adegan di Astina, maka Pasinden ini terlebih dahulu harus mampu memberikan gambaran keadaan Negara Astina kepada penonton melalui syair-syair lagunya.
Bahasa yang digunakan dalang dan bahasa yang digunakan Pasinden jelas berbeda fungsi. Bahasa Dalang fungsinya untuk mengungkapkan cerita, sedangkan bahasa yang digunakan Pasinden untuk memberikan gambaran dan mempertegas lukisan-likisan peristiwa yang dituturkan Dalang.
Pada saat jeda atau pengisi celah antar adegan (saat Dalang istirahat), Pasinden ini biasanya diberi kesempatan untuk membawakan lagu/kawin lepas yang tidak terikat dengan cerita. Sering pula lagu-lagu itu dipesan oleh penonton dengan memberi tips yang tidak ditentukan besar-kecilnya.
Sebuah pergelaran Wayang Golek umumnya memerlukan antara 2-5 orang Pasinden ditambah dengan Alok atau Wirasuara (pria). Semuanya tentu saja dituntut harus memiliki suara yang bagus dengan kepekaan yang tinggi terhadap musik dan karater Dalang
6. Bahasa dan Sastra Pedalangan
Pada dasarnya bahasa/percakapan antar tokoh dalam pergelaran Wayang Golek adalah bahasa daerah, dalam hal ini adalah bahasa Sunda dengan undak-undaknya yang disebut Amardibasa atau tata bahasa. Walaupun demikian, untuk tokoh-tokoh wayang tertentu seperti Bima dan Togog umumnya menggunakan bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa tersebut dilakukan para Dalang untuk memberikan variasi dan karakter pada wayang yang berjumlah ratusan.
Demikian juga dalam penyampaian prolog yang dalam istilah teknisnya disebut Murwa dan Nyanda, pada umumnya para Dalang menggunakan bahasa Jawa Kuno yang dituturkan sambil dinyanyikan dalam lagu tertentu. Prolog ini sebenarnya berisi penuturan yang menggambarkan suasana adegan yang sedang atau akan digarap sang Dalang.
Selain Murwa dan Nyandra, dalam sastra pedalangan dikenal juga Suluk dan Kakawen yang fungsinya untuk menggambarkan suasana dan karater wayang yang sedang ditampilkan. Perbedaan Suluk lebih menitikberatkan kepad bahasanya sedangkan Kakawen kepada karawitannya, terutama tentang melodi. Baik Suluk atau kakawen, keduanya dituturkan/dinyanyikan dengan menggunakan bahasa Jawa Kuno. Pada perkembangan selanjutnya para Dalang mulai ada yang menggunakan bahasa Sunda, baik untuk Murwa dan Nyandra, atau untuk Suluk dan Kakawen
Dalam menyempaikan lakon/cerita, seorang Dalang tidak dibenarkan menggunakan bahasa yang vulgar dan tidak beraturan. Untuk itu disusunlah rambu-rambu khusus yang disebut Panca Curiga atau Panca S. Lengkapnya Panca S itu adalah Sindir, Silib, Siloka, Simbul dan Sasmita yang mempunyai ari sebagai berikut:
6.1 Sindir
Adalah kritik-kritik, kecaman-kecaman atau pujian yang di ungkapkan dalam suatu cerita, yang disusun sedemikian rupa sehingga harus serta tidak secara langsung menyinggung hati yang dikritik atau dikecamnya.
6.2 Silib
Silib adalah suatu penerangan atau nasihat yang diselipkan di dalam suatu tema, babak atau adegan tertentu.
6.3 Siloka
Siloka adalah kalimat-kalimat yang harus digali kembali bila ingin mengetahui arti yang sesungguhnya.
6.4 Simbul
Simbul adalah perlambang yang harus dicari atau ditafsirkan sendiri apa makna yang sesungguhnya.
6.5. Sasmita
Yang dimaksud sasmita adalah isyarat atau pertanda
Hakikatnya Panca Curiga tersebut adalah suatu kesatuan yang utuh dan antara satu sama lainnya tidak dapat dipisah-pisahkan. Fungsinya adalah untuk memberikan “batasan” kepada Dalang dan Seniman pendukung Wayang Golek agar dalam mengucapkan kata (langsung), karena hal itu dapat menyinggung orang lain serta menurunkan derajat dan nilai seni pedalangan yang mereka anggap adiluhung.
7. Susunan Pengadegan
Yang dimaksud dengan susunan pengadegan disini adalah pola cerita atau Struktur Dramatik. Alur cerita dalam pergelaran Wayang itu tidak begitu penting sehingga kemapanan pola cerita tidak akan rusak karenanya.
Seraca garis besar Susunan Pengadegan itu terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu : Karatonan, Pasebanan, Bebegalan, Karaton lain, Perang Papacal, Gara-gara, Panditaan, Perang Kembang, Perang Barubuh, dan Karatonan.
7.1. Karatonan
Menceritakan keadaan di keratin Negara lawan (antagonis) yang biasanya sedang menghadapi kesulitan besar. Para Pembesar negeri itu tengah bermusyawarah untuk mencari jalan keluar dari kesulitan, kemudian salah seorang yang hadir mengajukan satu cara. Sang Raja menyetujuinya, kemudian menugaskan para Pembesar untuk menyiapkan diri.
7.2. Pasebanan
Para pembesar Negara sedang mengadakan persiapan dengan bala tentaranya di Paseban. Mereka mendapat tugas dari rajanya, yang intinya perintah tersebut akan merugikan pihak lain. Rombongan itu pergi menuju Negara lawan dipimpin oleh Senapati andalannya. Pimpinan rombongan biasanya akan mengendarai kuda atau gajah yang akan divisualisasikan Dalang dalam bentuk tarian Jaranan yang menarik
7.3. Bebegalan
Saat di sebuah hutan, rombongan ini dihadang oleh kawanan Raksasa yang marah karena terganggu ketenteramannya. Perang tak dapat dihindari dan akhirnya Raksasa itu dapat dikalahkan Rombongan melanjutkan perjalanannya.
7.4. Karaton Lain
Menceritakan keadaan di keratin Negara lain, yaitu keratin tokoh utama/protagonist. Keraton inipun biasanya tengah menghadapi masalah. Misalnya kehilangan pusaka, sakit, mimpi buruk Sang Raja, dan sebagainya. Saat mereka sedang bermusyawarah, tiba-tiba dating pasukan lawan yang membuat kerusuhan.
7.5. Perang Papacal
Terjadi peperangan “kecil” antara kedua belah pihak Perang ii bias dimenangkan oleh si baik atau si jahat, tapi umumnya si Jahat tersebut dapat melarikan diri dengan membawa apa yang diingininya.
7.6. Gara-Gara
Gara-gara ini adalah adegan lawak yang dilakukan oleh para Punakawan (Cepot, Dawala, Gareng) untuk menghibur ksatria asuhannya yang sedang berguru di sebuah Patapan. Adegan ini biasanya sangat dinanti-nantikan penonton karena penuh canda dan tawa sehingga dapat menghilangkan rasa kantuk. Setelah lawakan usai, muncullah ksatria (tokoh utama) tersebut dengan Pendita yang menjadi gurunya. Sang Guru memberikan wejangan kepada muridnya. Adegan diakhiri dengan perginya sang tokoh utama diiringi oleh para Punakawan untuk menunaikan Darma Baktinya.
7.7. Perang Kembang
Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan rombongan lawan sehingga terjadi pertempuran. Dalam pertempuran ini musuh dapat dikalahkan sehingga mereka melarikan diri.
8.8 Perang Barubuh
Tokoh utamanya mengejar musuh sampai kenegaranya untuk menuntut balas dan menyelematkan apa yang telah dicurinya oleh pihak lawan, maka terjadilah perang besar (adegan klimaks) dan diakhiri dengan kekalahan pihak musuh. Raja musuh tersebut dapat ditawan atau ditewaskan.
8.9 Karatonan
Seluruh adegan biasanya berakhir di sebuah keratin dengan dihadiri oleh seluruh keluarga tokoh utama. Kesimpulan akhirnya kejahatan akan dikalahkan oleh kebajikan.
9. Waktu dan Tempat Pertunjukan
Wayang Golek Sunda dapat dipertunjukkan siang hari ataupun malam. Hal ini dikarenakan pergelaran tersebut tidak menggunakan kelir seperti halnya pergelaran Wayang Kulit dari Jawa Tengah atau Jawa Timur.
Pertunjukan siang hari biasanya dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 16.00 WIB, sedangkan pertunjukan malam hari diselenggarakan mulai pukul 21,30 sampai menjelang azan Subuh.
Tempat pertunjukan bias dilaksanakan dimana saja, di dalam ruang tertutup atau di tempat terbuka asal tempat tersebut mampu menampung jumlah pemain dan penontonnya. Baik di dalam ruangan ataupun di tempat terbuka pergelaran wayang golek membutuhkan panggung. Panggung tersebut biasanya lebih tinggi dari pada kedudukan penonton, hal ini dimaksudkan agar para penonton tersebut dapat melihat dengan jelas jalannya pertunjukan.
Di atas panggung dipasang dua batang pohon pisang (gedebog) yang panjangnya kurang-lebih 1,5 meter sebagai area permainan atau untuk menancapkan wayang. Posisi kedua gedebog itu ditinggikan sekitar 80 cm dengan memakai penopang dari kayu yang telah dosediakan. Di kanan-kiri area pertunjukan dipasang pula gedebog dengan posisi yang lebih rendah, fungsinya adalah untuk menancapkan wayang-wayang yang sedang tidak terpakai. Wayang-wayang tersebut dipasang berjajar menurut aturan yang telah baku.
Wayang Kulit (ARTS)
Salah satu pertunjukan favorit, walau
terkadang (baca; seringkali) tidak paham dengan apa yang dibahasakan
oleh dalang tapi melihat 'boneka' wayang yang digerakan begitu rupa
ditambah dengan suara dalangnya sendiri yang bisa berubah-ubah membuat kendala ketidaktahuan akan bahasa menjadi tidak masalah...
Pertunjukan wayang yang selalu dilaksanakan malam hari sampai pagi juga menambah keasikan tersendiri untuk menontonnya
pertunjukan ini memang tidk asing lagi dalam kehidupan daerah indonesia khususnya jawa tengah di kalangan menengah keatas,di mana terdapat penonton yang mungkin sudah tidak muda lagi. dalam kisah nya selalu di kaitkan dengan masalah kehidupan tidak nyata seperti dongeng dan kisah yang dibuat-buat agar bisa membuat penonton semakin terlena
Pertunjukan wayang yang selalu dilaksanakan malam hari sampai pagi juga menambah keasikan tersendiri untuk menontonnya
pertunjukan ini memang tidk asing lagi dalam kehidupan daerah indonesia khususnya jawa tengah di kalangan menengah keatas,di mana terdapat penonton yang mungkin sudah tidak muda lagi. dalam kisah nya selalu di kaitkan dengan masalah kehidupan tidak nyata seperti dongeng dan kisah yang dibuat-buat agar bisa membuat penonton semakin terlena
Langganan:
Postingan (Atom)


















